Showing posts with label Gentle Birth. Show all posts
Showing posts with label Gentle Birth. Show all posts

Friday, 23 November 2018

Review Acupressure sebagai Usaha Induksi Alami di Pro V Clinic

Acupressure merupakan teknik penekanan pada area-area tertentu pada tubuh yang prinsipnya sama dengan akupuntur. Penekanan pada acupressure data dilakukan dengan jari jemari, siku, benda tumpul, atau alat tertentu.

Acupressure untuk induksi alami bisa dilakukan sejak usia kehamilan 37w.

Aku sendiri ngelakuin ini sebagai salah satu ikhtiar induksi alami terakhir di usia kehamilah 39w5d demi persalinan bebas intervensi medis.

Aku tau teknik ini sendiri dari ig: @bidankita dan beberapa postingan di Pinterest. Sebelum ke Pro V Clinic, nyoba sih mencet-mencet titik acupressure sendiri, kayak gini:




Tapi hasilnya kurang signifikan, maybe karena tenagaku kurang.

Akhirnya nyobalah nyari tempat yang bisa khusus acupressure untuk ibu hamil, satu-satunya (yang aku tau) ada di Jakarta ya di Pro V Clinic.



Alamat

Jl. Permata Safir 1/W 5 Permata Hijau Selatan DKI, RT.4/RW.2, Grogol Utara, Kby. Lama, DKI Jakarta, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210

Untuk bisa Acupressure di Pro V Clinic, kita perlu buat appointment H-1 bisa melalui WA ke CS Pro V Clinic. Nah di hari H kita tinggal datang deh ke TKP.

Meski udah lama follow Pro V Clinic dan udah pernah booking yoga -tapi batal karena kejauhan suami nggak bolehin-, ini pertama kalinya aku ke Pro V Clinic. Ternyata tempatnya kayak rumah gitu, mengingatkan ku pada BTA 45 di Tebet.

Pas sampai di Pro V Clinic, langsung ke receptionist, kemudian diantar ke tempat therapy.

Aku dapet therapistnya cowok mungkin usianya sekitar 30-an dan menurutku friendly orangnya. Kata therapistnya, di Pro V Clinic saat itu ada dua therapist untuk acupressure.

Pertama masuk langsung ditanya berapa usia kehamilannya dan kapan HPLnya. Aku bilang 39w5d dan HPL 2 hari lagi yaitu tanggal 8 September 2018.

Habis itu langsung deh mulai acupressure nya dengan posisi duduk menghadap ke tempat tidur, dilanjutkan dengan posisi berbaring di atas kasur.



Mungkin karena aku udah deket HPL jadi ditekennya kenceng banget, khususnya saat di area tulang ekor. Therapistnya juga menggunakan alat seperti alat untuk kerikan untuk pijit tulang belakang. Rasanya seperti tulang dikerik. Tapi therapist sambil terus membimbing aku untuk atur nafas dan ikhlasin rasa sakitnya. Aku pun mencoba ikutin semampu aku tapi alhamdulillah si nggak sampe teriak-teriak kok hehe.

Therapistnya juga seperti mengajak si dedek berbicara dan membujuk dedek untuk ayo cepat ketemu mommy nya sambil menunjukkan jalan mana yang harus ditempuh (diarahin gitu pake tangannya).

Kemudian sesekali therapist mengusap-usap kedua tangannya baru didekatkan ke perut aku, mungkin agar ada hawa panas-panasnya.

Setelah 45 menit selesai lah therapy nya dan therapist bilang kalau HPL nggak lahir, balik lagi ke sini ya bun..
Pulang dari sini coba makan nanas atau durian.
Dan pulang dari situ pun aku nyari nanas di PIM, dapet di Pronto. Aku makan cuma 5 potong kecil dan langsung berasa da gelombangnya. Seneng bangetlah aku. Singkat cerita gelombang itu pun akhirnya berujung ke persalinan di keesokan harinya.

Oh iya acupressure biayanya 325rb (300rb therapy, 25rb admin).

So, buatku sih worth trying banget acupressure ini. Udah banyak yang akhirnya bersalin setelah di-acupressure J.

Semoga bermanfaat ya! ^^

Review Kontrol Kehamilan dan Bersalin di Kemang Medical Care (KMC)

Tulisan ini dibuat untuk membantu mom-to-be yang sedang mencari referensi tempat persalinan di Jakarta dan sekitarnya.

Sebelum ke KMC, aku udah ke beberapa RS dan belum ada yang sreg. Mencoba nyari informasi dari berbagai forum dan saudara akhirnya dapet informasi mengenai KMC ini. Rumahku di Cijantung, lumayan jauh dari KMC, tapi jarak bisa ditempuh demi persalinan yang nyaman dan berkualitas.

Berikut review berdasarkan pengalamanku:

Selama kontrol kehamilan

Pros:
(+) Pelayanannya bagus banget. Kalau mau kontrol tinggal buat appointment melalui telepon ke Customer Service dan sehari sebelumnya CS akan telepon atau sms untuk konfirmasi kedatangan kita. Antrian konsul tetap berdasarkan kedatangan. Selama kontrol persalinan aku nggak pernah ngerasain nunggu yang lama banget. Kira-kira dua jam kontrol udah selesai, mulai dari daftar, timbang – tensi, konsul 30 menit, tebus resep, dan pembayaran (PS aku selalu kontrol weekdays dan aku bukan pasien dr. Ridwan yang hype sekali hehe).
(+) Tenaga kesehatannya oke-oke banget, mulai dari suster, dokter, konselor laktasi, semua melayani sepenuh hati dan ilmunya up to date.

Cons:
(-) Parkiran sempit, nggak pernah dapet parkir kecuali pas persalinan karena datang jam 6 pagi.

Additional Information:
Biaya per kontrol:
Biaya dokter spesialis kandungan 350rb
USG 2D 250rb
CTG seminar 200rb (pasien dokter Agung rutin CTG setelah usia kandungan 36w)
Vitaminnya beda-beda tapi menurutku sih agak mahal beli vitamin di farmasi KMC, bisa beda sekitar 40-70rb dari harga luar.

Overall:
Nggak pernah nemuin tempat check up kehamilan se bagus KMC, Ratingnya 5 of 5!

Persiapan Persalinan

Pros:
(+) Ada kelas Hypnobirthing, Prenatal Yoga, dan Senam Hamil tapi aku nggak ikut kelas di sini karena jauh.
(+) Hospital Tour bisa diminta ke CS dan mereka dengan senang hati nemenin kita keliling RS. Mulai dari Ruang Bersalin sampai ke Ruang Perawatan.
(+) Biaya persalinan pun bisa dilihat di CS.

Ini dokumen hospital tour nya:
Kamar VIP




Kamar Utama




Sebelum memutuskan bersalin (bahkan pindah kontrol) di KMC, aku sempet buat perbandingan biaya persalinan di RS yang Oke dan nggak terlalu jauh dari rumah, diantaranya RS Siloam TB Simatupang dan RS Pondok Indah. Selain itu, aku juga liat asuransi yang kupake cover nggak di RS itu hehe. Dari Siloam dan RSPI, KMC ini yang paling murah dan dekat dari rumah. Selain itu, cuma KMC yang khusus Rumah Sakit Ibu dan Anak, serta bisa Gentle Birth.

Langsung aja ya ini biayanya…


Asuransi yang bisa dipakai di KMC bisa dilihat di sini : 
https://www.kemangmedicalcare.com/about-us/partners/asuransi

Ada program nabung loh untuk persalinan!



Persalinan

Pros:
(+) Pelayanan sigap, ramah
(+) Bidan-bidan kompeten
(+) Ruangan nyaman, jauh dari kesan horror
(+) Fasilitas lengkap, ada Gymball dan Peanut ball dub
(+) Makanan enak

Cons:
(-) Duh pas di delivery room kenapa ya aku berkali-kali banget di VT nya dan dokter nggak ada waktu itu jadi aku mau complain bingung karena ini wajah baru semua yang ada di sana
(-) Musti banget gitu CTG terus, aku nggak suka sih tiduran pas labor. Pas Bukaan akhir dan udah di delivery room aja yang aku dibolehin nggak CTG lagi.

Perawatan Pasca Persalinan

Pros:
(+) Pelayanan oke, bisa istirahat full karena suster yang gantiin popok, mandiin bayi, dsb walau bayi dirawat gabung dengan ibu. Suster baik banget, awal-awal aku belum bisa nyusuin si dede, tiap mau nyusuin aku selalu panggil suster buat bantu dan selalu dilayani dengan baik. Selain itu nakes di sana juga selalu kasih sugesti positif jadi aku makin semangat.
(+) Visit dokter sehari ada 3 (dokter kandungan, dokter anak, dan laktasi) jadi bisa nanya-nanya banyak hal, maklum first time mother jadi masih banyak bingungnya.
(+) KMC baik banget, aku check in jam 8.00, check out jam 17.00 tapi hari terakhir itu nggak diitung bayar kamar lagi karena aku nunggu hasil lab bayi.
(+) Fasilitas dan Makanan udah nggak usah ditanyain lagi ya

Cons:
(-) Pemahaman antara dokter kandungan, dokter anak, dan konselor laktasi beda-beda, membuat bingung. Contohnya: bayi aku malam hari nggak bangun sama sekali, menurut dokter anak dan laktasi biarkan bayi menyusu on demand sedangkan menurut dokter kandungan, bangunkan untuk menyusu maksimal 4 jam sekali, takutnya bayinya lemas.
(-) Nggak bisa pilih dokter anak dan konselor laktasi
(-) Kecenderungan diagnosis tongue tie pada bayi oleh konselor laktasi
(-) Kamar yang sendiri penuh terus, laris manis
(-) Perkiraan biaya hanya berlaku untuk ibu, bayi tidak termasuk (laboratorium, visit dokter, vaksin, belum lagi kalo dedek mesti disinar but worth it kok)

Kesimpulan :
Menurutku KMC masih the best banget untuk tempat bersalin namun namanya juga RS ya jadi masih ada beberapa intervensi. Kalo mau pure Gentle Birth with no intervention at all mungkin bisa di Klinik Bidan Kita atau Klinik Bumi Sehat Robin Lim di Bali :).

Tuesday, 20 November 2018

My Gentle Birth Story

6 September 2018, usia kandungan 39w5d

Setelah hampir semua induksi alami dilakuin, aku nyoba acupressure di ProvClinic jam 11 pagi. Selesai acupressure, makan nanas, dilanjutkan power walk keliling PIM. Pas power walk, berasa ada gelombang di dalam perut, langsung excited banget dan makin kenceng jalannya. Jam 16.30 - 18.30 nonton film Searching, selama nonton, duduknya kaya posisi terbalik dan sesekali sufi rotation, alhamdulillah gelombangnya lanjut. Film selesai, sholat magrib, so sad gelombangnya ilang. Nggak nyerah, keliling PIM lagi sampe 4.2km😹.

Pulang, sampe rumah jam 9 malam, mandi air hangat lanjut gymball berdua suami dan gelombang pun datang lagi, langsung semangat banget!

Tapi kita kecapean akhirnya tidur dan aku kebangun jam 1 pagi. Jam 1 - 3 ngerasain pingin poop dan sempet poop 5x.

Bangunin suami bilang,
“Yang, aku bingung ini diare apa kontraksi ya tapi aku gak bisa tidur nih.”

Suami pun dengan yakinnya jawab,
”Yeay kayaknya ini kontraksi.”
  Maklum cuti suami sisa 3 hari lagi jadi berasa banget lagi dikejar deadline hehe

Saat itu juga suami langsung download aplikasi Kontraksi Nyaman @bidankita dan kita mulai ngitungin gelombangnya sambil mompa gymball.


Ternyata aplikasinya oke banget, di sela-sela kontraksi ada musiknya, dan saat kontraksi ada suara-suara panduan relaksasi, ngebantu banget.

Kemudian jam 4, sesuai aplikasi, kontraksi udah 5-1-1. Aku masukin semua perlengkapan akhir, suami siapin air hangat yg udah dicampur garam mandi, dan ibu siapin sarapan. Jam 5, semua peralatan beres + udah sarapan, dan kontraksi pun sudah 4-1-1 tapi belum sempet mandi. Aplikasi udah nyuruh segera ke RS berkali-kali, akhirnya memutuskan berangkat ke RS sambil WA dokter dan doula.

Sekitar jam 6, kita sampai di RSIA Kemang Medical Care (KMC), alhamdulillah jalanan lancar + kita dapet parkiran (biasanya kalo kontrol, kita parkirnya di gedung depan karena selalu penuh). Langsung di CTG 30 menit, VT ternyata bukaan 2! Alhamdulillah!

Dokter Agung instruksi untuk stay di RS dan ibu sama suamiku juga maunya stay aja, takut jalanan macet. Kemudian aku ngabarin doula lagi dan disaranin tidur buat save energy di fase aktif nanti (bukaan 4 ke atas). Setelah sarapan lagi (makanan RS), makan kurma 6-8 butir, oles Essential Oil Lavender Young Living, kompres punggung pake air hangat + kompres karet (endolita banget!), Alhamdulillah ku pun bisa tidur. Setiap kontraksi aku kebangun, langsung atur nafas, terus tidur lagi. Sampai jam 10, CTG lagi + VT, hasilnya bukaan 4 longgar. Yess!!!



Masuk fase aktif, aku pun mulai aktif, langsung bangun dari tempat tidur dan power walk bolak balik kamar observasi. Tiap gelombang datang, maunya dipeluk + diendorphine massage (sebenernya lebih lembut dari massage, ala ala quantum touch kali ya, kita sempet diajarin juga sama pelatih yoga). Sempet praktekin shake the apple tree sama rebozzo juga di ruang observasi sama suami. Alhamdulillah semua yang dipelajari saat hamil, bisa diterapkan.



Nggak lama, akhirnya Mba Ika (doula) datang. Langsung dibimbing buat ngelakuin beberapa gerakan prenatal yoga yang (cat cow position, open hips dan lupa apalagi hehe). Habis itu, aku minta di shake apple tree + rebozzo. Serius deh jadi gak berasa apa-apa pake 2 teknik itu, wajar ya kalo ketagihan hehe. Setelah beberapa saat mba ika ngelakuin teknik-teknik pain relief, aku minta tiduran lagi, entah lelah atau ngantuk. Di tempat tidur, tidur miring kiri pakai peanut ball. Nggak lama, merasa kurang nyaman, lepas peanut ball, tidur miring kiri, gelombangnya udah 3-1-1. Selalu meluk suami tiap gelombang dateng. Mba ika selalu ngebimbing nafas + vocalize, ngerelaksasi dan membimbing buat ikhlas.



Jadwal VT jam 2 tapi jam 1an udah mulai ada sensasi ingin mengejan. Mba Ika bilang tahan dulu ya, ini belum. Akhirnya jam 2 CTG lagi tapi nggak sampai 30 menit dilepas karena bener-bener udah mau ngejan. Pas VT, udah bukaan 8. Seneng bangetttt! Pindah deh ke Delivery Room.


Sempet bikin video amatir bareng suami untuk kenani-kenangan hehe dan ada muka aku lagi kontraksi. Begitulah tiap kontraksi datang, auto atur nafas dan mencoba tenang :)



Sampai Delivery Room, di VT lagi, udah bukaan hampir lengkap.


Di sini sebenernya ada suster yang mau aku di CTG lagi tapi karena CTG = tiduran, which I couldn`t bear anymore at the moment jadi aku bilang Nggak mau dan oke boleh. 


Fase ini menurutku paling enak karena berasa banget kalo baby nya udah mau keluar, tekanannya beda dengan fase sebelumnya yang masih ngawang banget walaupun kepala baby udah ganjel di bawah.

Selaput ketuban pun belum pecah dan akhirnya dipecahin sama suster, supaya lebih gampang kali ya.

Suster bilang,
“Tiap kontraksi, jadiin kekuatan buat si dedek keluar ya bun”.

Kemudian datanglah gelombang itu, dan suster bilang,
”Bun ayo ngeden gemez”

Haaaa??? Bilang ke suami,”Ayang aku gak ngerti ngeden gemez itu kayak gimana. Aku yoga gak diajarin ngeden huhu.”

Suami pun bilang ke suster,”Sus, tolong ajarin dulu istri saya belum belajar ngeden gemez.”

Akhirnya diajarinlah wkwkwk dan sumpah kocak abiez

Setelah 4x ngeden gemez. Lahirlah dedek gemez, my dear Raqiano Zulfiqar Arkham dengan TB 49cm, BB 3.305kg, dan APGAR score 9/10. Pas hamil pingin baby nya lahir dengan BB pas 3 kg karena takut susah keluarnya tapi ternyata enggak. Allah udah desain sempurna tubuh kita, hiks :”

Kemudian lanjut IMD (Inisiasi Menyusu Dini) bertiga sama suami sambil nangis bareng, we are the superb team! Terima kasih atas kerja samanya sayang2ku!!!!



Alhamdulillah sesuai afirmasi, bisa ngerasain persalinan normal yang berkualitas dan menyenangkan. Nggak nyangka prosesnya bisa kayak gini :’). Buat temen2 yang lagi hamil ataupun baru rencana mau hamil, semangat mewujudkan pengalaman hamil dan bersalin yang positif! Ayo kita hempaskan mindset hamil = banyak keluahan, bersalin itu sakit dan menakutkan. This is 21st century, anything could happen! xoxo

Oh iya kalo ada yang mau ditanyain atau disharing, most welcome banget ^^

Let’s support each other!

Last but not least, I want to thank my husband @arkhamputranda. Thank you for trusting me and supporting me in my choices.

They said,”Being a father doesn’t start when the child is born, it starts when the mother is pregnant.” and it’s true :).

Terima kasih udah mau memberdayakan diri bareng aku, mau baca buku pas di lapangan (walaupun gak tamat wkwk), terima kasih buat semuanya Maaas J.

Thursday, 25 October 2018

Persiapan Gentle Birth

Setelah dinyatakan positif hamil, bersama suami kaget dan galau karena merasa belum siap dan sangattt takut. Jangankan untuk persalinan dan selanjutnya mengurus anak, hamil pun kita takut banget.

Kenapa???

Karena sering banget denger cerita menyeramkan dan menakutkan tentang itu semua.

Hamil nggak bisa ini itu, makin gede makin payah deh pokoknya
Persalinan sakit banget, antara hidup dan mati
Belum lagi urus anak, begadang terus

[Bocoran, pada akhirnya semua itu tidak terjadi di aku]

Sadar nggak sadar jadi aku dan suami trauma terhadap sesuatu yang padahal belum pernah kita alamin.

Hal itu pengaruh banget di perjalanan awalku hamil. Mulai dari hasil Test Pack positif, aku merasa sakit kepala tiada tertahankan, mual, nggak mau makan, lemes, campur aduk, nangis terus, suami pun jadi nggak bisa kerja karena full jagain aku. Aku nggak tahan banget mau pulang ke Jakarta sedangkan suami baru bisa cuti seminggu lagi. Rasanya aku nggak sanggup nunggu lebih lama lagi, akhirnya, aku pulang ke Jakarta sendiri dari Banjarmasin di usia kandungan 5w.

Curhat sana-sini jawabannya sama. “Ya emang hamil kayak gitu, nikmatin aja..”

WHAT? Harus nikmatin kayak gini selama 9 bulan? Rasanya mau nyerah aja T_T

Sampai di Jakarta, alhamdulillah kesehatan membaik dan udah mulai bisa berpikiran (agak) jernih. Mulai lah cari tau apapun tentang kehamilan dan nemu komunitas Gentle Birth (GB).

Mulai bertanya-tanya, kok bisa ya mereka hamil tapi stay happy? Kok bisa ya mereka gak takut melahirkan, malah menanti-menanti banget, dan yang udah melahirkan sama sekali nggak ada trauma?

Jadi, awalnya bukan mau melahirkan normal tapi mau hamil nyaman dan bebas takut melahirkan, apapun metodenya nanti. Plus, nggak ada trauma setelah melahirkan.

Kemudian mulailah cari tau tentang Gentle Birth (GB). Mulai dari baca buku-bukunya (aku baca hampir semua buku dan artikel di blog @bidankita, sampe diresume yg pentingnya terus sharing ke suami), ikutan 21 day challenge nya (work outbgt!), ngikutin forum-forum Gentle Birth, nonton video tentang Gentle Birth baik dari dalam maupun luar negeri, dan nyoba ikutin semua stepnya.

Penjabaran stepnya kayak gini :

1. Knowledge is Power

Buat penggemar GoT susah percaya ini (Cersei ruined it haha) tapi untuk case Gentle Birth, ini benar banget.

Kuncinya Baca, baca, dan baca. Knowledge really gives you power.

Aku berusaha cari tau mulai dari anatomi tubuh sampai ke hal-hal remeh sekali pun. Jadi nggak gampang panik kalo ada apa-apa. Termasuk pas di usia 14w, aku flek, dan dokter bilang aku plasenta previa. Di usia hamil muda plasenta masih muter-muter jadi tenang aja tapi tetap jaga kesehatan.

Di dokter itu, aku merasa kurang diedukasi tapi lebih ke penekanan bahwa risiko keguguran kandunganku tinggi. Knew that I deserve better, aku pun pindah dokter.



Sumbernya banyak banget, bisa dari buku (aku suggest semua buku nya Yessie Aprilia), website (bidankita), Instagram (@bidankita, @lannykuswandi, @jamilatusadiyah, @tantri, @bukaanmoment, @provclinic), Pinterest (banyaaak banget info di sini, u can visit my Gentle Birth Board, akunku @sitikarimah), etc.

2. Mindfulness dan Awareness

Belajar peka sama keadaan diri sendiri. Gunain insting kira-kira ini kenapa ya terus harus apa.

3. Healing Birth Trauma

Di step ini, aku coba skip cerita negatif tentang hamil dan persalinan, and Stay Positive!

4. Breath

Nah! Ini kunci banget!
Banyak banget teknik pernafasan, aku cuma belajar dua teknik nafas yaitu:

a. Belly Breathing (4-6minggu)

Setelah belajar belly breathing,tiap merasa mual, aku langsung belly breathing, dan itu sangat membantu. Aku baru bisa menguasai belly breathingselama 4 – 6 minggu. Awalnya,cuma bisa pendek-pendek nafasnya, lama-lama, alhamdulillah bisa 20-20 (20 detik ambil nafas, 20 detik buang nafas).

Oh iya, buat aku nggak gampang belajar ini lewat Youtube karena nggak ngerti yang bener itu kayak gimana sih. Akhirnya aku baru mulai belajar ini pas aktif yoga jadi diajarin sama couchnya.

b. Ujayyi Breathing atau J Breathing (5 minggu kali ya)

J breathingaku lakuin selama laborkemarin. Kalo udah biasa belly breathing, J breathingini lumayan gampang tapi harus bener-bener dibiasakan biar bisa auto pilotpas labor. Di saat buang nafas menggunakan teknik J breathingkayak ada tekanan di bawah, nah itu yang biasa dibilang `Breath the Baby Out`.

5. Relaks Mind

Salah satu caranya latihan relaksasi setiap hari. Aku ikutin 21 Days Challenge di web bidankita plus dengerin rekaman suara Mba Ika (yoga couch dan doula aku). Tiap yoga pun selalu ada sesi relaksasi sambil latihan atur nafas. Latihan relaksasi yang aku lakuin selalu meningkan intensitasnya karena biar semakin khatam juga teknik pernafasannya (tiap relaksasi, atur nafas).

Daaaan yang nggak kalah penting, kunci relaks mind ini Stay Happy! Pas hamil, aku menghindari banget hal-hal ruwet dan negatif.

6. Mind, Baby, and Body Balance

Prenatal Yoga = paket lengkap. Prenatal yoga aman dilakukan sejak usia kandungan 20 w. Jangan lupa stay active during pregnancy. Kalo aku, makin gede hamilnya malah semakin aktif. Rutin yoga sendiri di rumah 2x sehari, power walkminimal 30 menit per hari, dan renang hampir setiap hari (@30 menit). Renang sebenernya aman sampai akhir kehamilan tapi berhubung aku kalo renang sendirian, semenjak masuk usia kandungan 37 minggu, aku stop renang.

7. Mobility dan Gravity during Labor

Ini dilakukan selama labordan dipelajari sebelum labor. Dengan keep mobiledan keep upright positionbisa membantu si dedek keluar. Kemarin, selama fase passive labor(pembukaan 1 – 4), aku istirahat. Pas masuk fase active labor(pembukaan 5 – 10) langsung gerak, jalan, rebozzo, shake di apple tree, yoga, open hips, dsb. Alhamdulillaaah semua ilmu yang dipelajari selama hamil kepake banget di labor kemarin. Suami pun nggak lupa caranya Shake the Apple Treesama Rebozzogimana. Suami selalu ingetin buat atur nafas juga (lebih lengkapnya di postingan Birth Storyya).

8. Gentle Birth Provider dan Support

Meski kunci dari Gentle Birth ada di kita sendiri, tapi kita tetep butuh provider yang pro Gentle Birth. Please jujur sama diri sendiri, kalo belum sreg, berani pindah provider. Aku pun berganti 9 Obsgyn dan 5 RS. Akhirnya, pilihanku jatuh ke dr. Agung di RSIA Kemang Medical Care. Recomended banget melahirkan di KMC, semua providernya sangat koperatif, dan yang paling penting, KMC pro normal, pro ASI, dan pro RUM (Rational Used Medicine).

Oh iya, buat bisa Gentle Birth, husband’s blessing is needed!!! Daaan, suamiku sempet gak ngebolehin lahiran normal sampai usia kandungan 6 bulan. Alasannya? Nggak tega dan “Masa iya sih di jaman modern ini, normal deliverylebih baik dari sesar (yang kita kira awalnya ‘pain free’).Sampe ku pernah di-Terserah-in hahaha tapi istrinya Stubborn banget.
Meskipun awalnya merasa belum siap hamil, seiring berjalannya waktu, makin sayang sama si dedek, dan maunya cuma ngasih yang terbaik buat dedek.

Akhirnya setelah meyakinkan dengan teori-teori yang kubaca plus kayaknya suami gak tega liat aku sebegitu semangatnya pas hamil, pada akhirnya suami luluh juga terus bilang,

”Dedek, mommy is a bright woman. I know she only wants to give you the best effort she could do. I believe in her and I`m gonna support her.” [CRY]

Terus di akhir kehamilan sempet rada takut suami belum ikhlas hehe akhirnya bilang lagi lah,
“Yang, plis plis plis I need your blessing. Kalo ada di hati kamu nggak ikhlas sedikit aja, aku gak yakin bisa.”
- Dan saat itu keliatannya suami positif udah ikhlas -

Ku pun sempet ragu sama diriku sendiri, dan bilang,
“Yang, Andien aja yg sebegitu usahanya masih ngerasa sakit pas ngelahirin, aku gimana ya yang?”

Tapi kadang aku ragu sama suami aku, akhirnya sering ngingetin,

“Yang, pas nanti ngelahirin, plis jangan gak tega sama aku, plis bilang aku bisa ya..”

Setelah aktif berdayain diri, mulai deh hamilnya minim keluhan banget banget (kayak nggak hamil aja pokoknya), mulai aktif olahraga lagi, dan mulai ada keinginan lahiran normal, setelah sebelumnya berdua suami udah mau langsung daftar C-Section terencana wkwk. Udah sounding juga ke keluarga dan beberapa temen,”Kita mah sesar aja”. Segitu blanknya dulu hehe.

Oh iya, kalau timeline ku kemarin, mulai usia kandungan 6 minggu udah baca-baca tentang kehamilan dengan intensitas yang semakin bertambah karena semakin penasaran. Aktif gerak lagi baru di usia kehamilan 15 minggu, kayak renang dan power walk, belum yoga sama sekali, baru kepo aja, baca lanjut terus, makin semangat. Usia kandungan 20 minggu, cuma peragain yoga sebisa mungkin tapi takut salah jadi jarang banget dilakuin, terus nyoba latihan nafas tapi bingung banget akhirnya pun gagal hehe (olahraga lainnya berlanjut sampai akhir kehamilan).

Naaah pas usia kandungan 28 w baru mulai aktif yoga. Alhamdulillah jodoh private prenatal yoga sama Mba Ika. Tiap yoga makin bikin semangat hamil dan semangat melahirkan. Pokoknya serba semangat. Semenjak itu juga jadi rajin latihan relaksasi, latihan nafas.



Mba Ika pernah nanya,
”Mba, udah bikin kontrak belum sama bayinya mau melahirkan kapan?” 
Disitu bingung sih,
“Wah bisa ya kayak gitu”.
Akhirnya, mulai deh percaya kalo bayi genius sehingga permasalahan-permasalahan setelahnya rasanya cukup diselesaikan dengan komunikasi sama baby.

Habis itu juga semakin aktif melakukan afirmasi positif dan visualisasi. Sebenernya disaranin untuk afirmasi setiap habis sholat tapi aku suka kelupaan jadi paling pas mau tidur aja. Tiap afirmasi, aku ngebayangin si dedek, posisi tali pusat, plasenta, dan kondisi air ketuban. Pas hamil banyak banget yang ngingetin dan doain aku supaya nggak ngalamin Ketuban Pecah Dini (KPD) yang makin sering terjadi dan belum diketahui pasti penyebabnya apa (kata dokter Agung, terbanyak karena Infeksi Saluran Kemih jadi disaranin cukup minum dan tidak menahan pipis). Plus, di akhir-akhir kehamilan, dedek beberapa kali terlilit tali pusat, jadilah aku makin sering `ngobrol` sama dedek.

OH IYA! Most of my positive affirmationsterlaksana dengan baik (centrang pink).

Usia kandungan 33 minggu, Birth Plan udah jadi, setelah didiskusikan dengan suami dan doula, baru deh dibawa ke dokter dan beberapa poin dokter Agung nggak bisa penuhin tapi masih oke.



Fyi, kalo sama dokter Ridwan, bisa dipenuhi semua plan ini tapiiii dokternya cuti haji 4 minggu (saat usia kandunganku 34w sampai 38w) dan nggak tau perkembangan aku di akhir-akhir, ku pun memutuskan balik ke dokter Agung.

Minggu ke 35, hospital bag udah ready, sewaktu-waktu udah mau melahirkan tinggal berangkat. Berikut list hospital bag nya:


Minggu ke 36, udah disaranin ngelakuin induksi alami kayak makan buah tropis dsb. Tapi, aku kan sempet coba induksi dan langsung kontraksi perutnya, sedangkan amannya baru lahiran pas 37 minggu jadi aku stop.

Di minggu ini juga, aku nanya ke dokter, kira-kira kalau udah ada tanda-tanda melahirkan, aku harus kemana ya?

“Kalau flek atau kontraksi udah intens tapi belum flek, langsung ke ruang observasi di Lantai 2, di sana ada Tim yang selalu standby. Kalau pecah ketuban, langsung ke IGD.”

Berbeda dengan instruksi bidankita yang bilang sebaiknya di rumah selama mungkin untuk meminimumkan dilakukannya intervensi medis + alasan kenyaman, kalo instruksi dokter, secepatnya ke RS. Aku pun ikutin instruksi bidankita, pake rumus 4-1-1 (+aku belum flek juga pas di rumah).

Selain itu, di minggu ini, persiapan lainnya adalah minta hospital tour sama costumer servicenya KMC dan nanya urus administrasi untuk persalinan gimana, supaya nanti pas hari H nggak bingung, persiapan kalo harus melahirkan nggak sama suami jadi harus mandiri.

Minggu ke 37,



Ini adalah foto saat 37 w (BB ku udah +10kg dengan taksiran BB baby 3.4kg).

Mulai minggu ini rutin prenatal massage, makan kiwi + kurma + nanas, minum madu + VCO, ngelakuin perenium massagesendiri, power walkminimal 30 menit, yoga 2x sehari, relaksasi ngulang-ngulang suara bidan Yessie, main gymballsambil nonton series.

Oh iya, kata orang hamil gede itu jadi payah banget deh tapi di aku enggak, malah makin semangat olahraga, tidur lancar, kaki aman (tidak bengkak), tekanan darah normal, dan nafsu makan normal sehingga penambahan BB pun terkontrol.

Masuk minggu ke 38, situasi menegang dan jadi lebih sensitif kalo ditanya kok belum lahir-lahir? Apalagi kalo disertai komparasi “Si ini udah lahiranloh”.

- Ku berjanji tidak akan melakukan hal serupa pada ibu hamil -

Tapi aku masih aktif olahraga dan rutinitas lainnya.

Perjalanan hamilku juga nggak selalu mulus, kadang ngerasa motivasi hilang, nah paling disitu memaksa diri untuk disiplin. Aku pernah 3 hari nggak sempet olahraga karena kebetulan banyak acara, alhasil kaki pun kerasa ganjel dan badan kurang enak. Yang tersering sih suka sedih kangen suami, tapi berusaha nge-distract dengan hal lain aja.

Ketidakmulusan terparah terjadi saat memasuki usia 39 w.

Pressure tinggi banget ya di sini, banyak sebabnya :”

Padahal di affirmasiku emang maunya dedek lahir di usia 38 – 38 w tapi nyatanya galau banget pas masuk 39 w.

Kegalauan dan pola makan yang tiba-tiba amburadul (karena yang penting galaunya hilang deh) menyebabkan munculnya hemmorhoid (wasir). Bedrest karena sulit gerak, nangis minta suami pulang aja, dan akhirnya suami pun pulang.

Ngeliat kondisi aku yang parah banget, suami pun bilang :
S : “Yang, kamu ikhlas ya kalo kita harus sesar, yang penting kamu sama dedek selamat.” 
Di situ ku pun udah pasrah dan bilang, 
A : “Iya gpp, yang penting selama ini kita udah ngelakuin yang terbaik ya.”

Tapi aku sambil bilang ke dedek,”Dek, boleh tunggu sebentar ya keluarnya, sampai hemmorhoidnya membaik.”

[Disitu udah pasrah tapi dalam hati masih percaya kalo Dedek paham dan dokter pun bilang masih bisa diusahakan normal]

Setelah rutin Sitz Bath dan kompres dingin hemmorhoidnya + minum obat-obat dari dokter akhirnya hemmoroidku membaik. Saat itu langsung bilang dedek “Ayo dek kita udah siap.”

39w4d alhamdulillah udah bisa olahraga keliling rumah 30 menit, lumayan. Kemudian tersadar, cuti suami tinggal 3 hari lagi…


Lanjut di postingan Birth Story

Review PRP dan Derma Punch di NMW Skin Care Depok

 *Review ini akan di- update secara berkala mengingat aku masih menjalani rangkaian treatment. Tulisan terdahulu ku tentang review NMW ada d...